Penulis: Petrus Kanisius, 6 Oktober
2017
Tidak
hanya sulit dijangkau, namun realita sekolah-sekolah di pedalaman boleh dikata
masih minim dari layaknya fasilitas yang mendukung bagi peserta didik dan
jaraknya yang sulit dijangkau. Ya, realita sekolah-sekolah yang berada di
Pedalaman tersebut lebih tepatnya berada di wilayah Kec. Manis Mata, Kab.
Ketapang, Kalbar. Hal tersebut diketahui ketika kami dari Yayasan Palung
mengadakan ekspedisi pendidikan lingkungan ke kampung-kampung bulan Agustus
silam selama sepekan.
Jarak
tempuh untuk menjangkau wilayah ini membutuhkan waktu yang panjang. Perjalanan
panjang menyusuri waktu. Tidak kurang 7-8 jam perjalanan yang kami tempuh untuk
tiba di wilayah Manis Mata. Setibanya di Manis Mata pun tak lantas sampai,
tetapi kami harus menyusuri jalan yang cukup licin dan jalan yang banyak
persimpangannya. Maklum saja, selain jalan propinsi dan jalan kabupaten, ada
jalur alternatif, jalur tersebut adalah jalan perusahaan perkebunan kelapa
sawit. Sejauh mata memandang, hampir kami tidak menjumpai hutan karena telah berganti
tanaman sejenis yang tak lain ialah sawit
Potret
keadaan sekolah yang sangat sulit dijangkau, tetapi juga minim fasilitas dan
tenaga pengajar. Antusias dari murid-murd
SDN 15 Manis Mata terlihat, mungkin salah satu, salah duanya karena
kehadiran kami di sekolah tersebut. Di Sekolah tersebut, guru cukup menurut
keterangan warga yang namanya enggan disebut. Akan tetapi yang menjadi
persoalan adalah fasilitas pendukung bagi anak-anak didik seperti perpustakaan
belum tersedia, listrik juga hanya ada di waktu malam dan tidak di waktu
belajar mengajar. Menurut keterangan warga juga, sekolah tersebut sangat jarang
dikunjungi oleh pihak-pihak lain, karena memang maklum daerahnya sangat sulit
dijangkau. Saat kami mengunjungi sekolah tersebut, kami harus melewati berbagai
persimpangan jalan perkebunan sawit, perkebunan karet dan perladangan
masyarakat. Dengan kata lain, sekolah tersebut berada di dalam area yang cukup
sulit dijangkau, hanya jalan setapak dan sepeda motor yang bisa melewatinya
(cukup terisolir). Hanya dipaksakan saja bila kendaraan roda empat bisa
menjangkau menuju sekolalah itu.
Beberapa
hari kami luangkan waktu untuk bersua dengan masyarakat lewat diskusi dan
melakukan pemutaran film lingkungan dan film hiburan. Selanjutnya kami
menyambangi sekolah-sekolah.
Jumlah
siswanya dari kelas 1-6 hanya berjumlah kurang dari 50 orang, ketika kami
mengunjungi sekolah tersebut, pada Selasa (8/8). Kami berkesempatan untuk
memberikan informasi terkait satwa dilindungi di Kalimantan seperti orangutan,
bekantan, kelasi, enggang, kelempiau, dan beberapa satwa lainnya seperti
trenggiling dan kukang. Kami menyampaikan informasi dengan media boneka dengan
bercerita (bertutur). Kami sagat disambut baik oleh pihak sekolah dan ketika
kami menyampaikan puppet show (bercerita menggunakan media boneka), tampak
bahagia dari raut wajah 46 murid yang mengikuti kegiatan tersebut.
Pada
kesempatan kedua, Kamis (10/8), di SDN 2 Manis Mata, kami berkesempatan juga
untuk berkunjung dan memberikan informasi terkait lingkungan hidup dan satwa
dilindungi melalui media boneka. Saat kami menyambangi SDN 2 Manis Mata, ada 67
murid yang hadir saat kami menyampaikan materi. Sekolah Dasar ini cukup dekat
dengan perkampungan dan tidak terlalu sulit untuk menjangkaunya.
Lain lagi
di SMPN 5 Manis Mata, ketika kami mengunjungi pada (9/8), Jumlah muridnya hanya
55 murid dan 5 orang tenaga pengajar yang terdiri 3 tenaga pengajar dibiayai
oleh perusahaan, 1 honor dan 1 PNS selaku kepala sekolah. Menurut cerita dari
guru-guru tersebut, Ada dua SK guru kontrak dari Dinas Pendidikan Ketapang yang
tugaskan di sekolah tersebut, namun hampir 1 tahun guru yang bersangkutan tak
kunjung tiba di sekolah tersebut. Di sekolah ini juga masih belum ada listrik.
Sedangkan
di SMPN 9 Manis Mata, (10/8) saat kami berkunjung diketahui sekolah tersebut
merupakan sekolah satu atap (satap) dengan SDN 2 Manis Mata. Siswa-siswinya
hanya berjumlah 25 orang dan memiliki 3 guru yang digaji oleh pihak desa
setempat, yaitu desa Asam Besar.
Yang cukup
lengkap sarana dan prasarananya adalah SMK Taruna Manis Mata, sekolah tersebut
merupakan sekolah swasta dan cukup fasilitas termasuk ruang bermain dan
perpustakaan.
Kala
listrik diperlukan pada siang hari, mereka hanya bisa mengandalkan gengset
sebagai sumber listrik. Namun, jika di sekolah yang belum teraliri listrik
hampir dipastikan gengset setiap kali dan terbebani biaya bensin yang lumayan
besar.
Dari
cerita masyarakat, hingga kami mencoba untuk menyambangi wilayah Manis Mata. Di
Wilayah ini, ada beberapa ancaman dan potensi. Ancaman yang dimaksud tidak lain
adalah masifnya perluasan area untuk perkebunan dan pertambangan yang
mengalahkan tajuk-tajuk pepohonan. Di
lain sisi adalah potensi wisata yang jika dikelola dapat dijadikan sumber
pendapatan bagi desa ataupun daerah. Iya, potensi tersebut tidak lain adalah
Danau Asam Besar yang manis dipandang mata.
Sumber: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/59d72f527ac6657d8f3aeb73/potret-sekolah-di-pedalaman-sulit-dijangkau-dan-minim-perhatian
B. Rangkuman
Tak hanya
sulit dijangkau, sekolah dipedalaman bisa dikatakan masih minim dari layaknya
fasilitas yang mendukung bagi peserta didik dan jaraknya yang sulit dijangkau,
misalnya daerah pedalam yang berada di wilayah Kec. Manis Mata, Kab. Ketapang,
Kalbar. perjalanan yang ditempuh untuk tiba di wilayah tersebut sikat 7-8 jam,
banyak rintangan yang dihadapi untuk menuju ke lokasi, banyak pohon sawit
disekitaran wilayah tersebut yang dulunya adalah hutan
Sesampainya
disana ada SDN 15 Manis mata yang merupakan sekolah minim fasilitas dan
pengajar, sekolah tersebut sangat minim fasilitas pendukung seperti belum
adanya perpustakaan dan tersedianya listrik juga sangat terbatas, karena memang
wilayah tersebut sulit untuk dijangkau. Jumlah murid yang ada disekolah
tersebut antara rentang kelas 1 sampai kelas 6 hanya berjumlah kurang dari 50
orang. Sedangkan jumlah murid dari SDN 2 Manis Mata hanya berjumlah 67 orang,
dan di SMPN 5 Manis Mata jumlah muridnya hanya 55 orang dan 5 orang tenaga
pengajar yang terdiri dari 3 orang dibiyayai oleh perusahaan, 1 orang honorer
dan 1 orang selaku kepala sekolah. Sedangkan di SMPN 9 Manis Mata yang
merupakan sekolah satu atap dengan SDN 2 Manis Mata, jumlah muridnya hanya 25
orang dan memiliki 3 guru yang digaji oleh pihak desa setempatz yaitu desa Asam
Besar
Yang cukup
lengkap sarana dan prasarananya adalah SMK Taruna Manis Mata, sekolah swasta
yang cukup lengkap fasilitasnya, menggunakan jenset dikala membutuhkan listrik
akan tetapi hal tersebut sangat membebani dikarenakan bensin disana sangat
mahal
C. Kategori
Berdasarkan
pembahasan masalah artikel diatas dapat dikategorikan bahwa artikel tersebut
merupakan kategori masalah pemerataan pendidikan dikrenakan dalam artikel
tersebut mengemukaan belum meratanya pendidikan yang layak sampai ke daerah
pedalaman atau yang sering disebut daerah 3T dari artikel tersebut diaebutkan
bahwa fasilitas-fasilitas disana sangat kurang dan tidak dapat disebut layak.
Pemerintah belum membantu daerah seperti itu dengan maksimal karna terlihat
dari peenyataan bahwa sebagian besar guru disana yang digaji oleh pihak desa
setempat. Sehingga menurut saya masalah tersebut termasuk ke kategori
pemerataan pendidikan
D. Komentar
Menurut saya pemerintah seharusnya lebih ketat
menyeleksi sekolah-sekolah mana yang seharusnya lebih diprioritaskan untuk
mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah karena lebih baik pemerintah
memprioritaskan dana BOS ini di daerah-daerah 3T seperti yang ada di artikel
diatas, karena sekolah seperti itu sangat membutuhkan bantuan dana agar dapat
mengembangkan fasilitas sekolah yang akan mungkin sangat berdampak pada
pendidikan di sekiran daerah tersebut, sehingga anak-anak disana akan merasa
ingin sekali untuk bersekolah karena sekolahnya sudah mencukupi fasilitasnya
sehingga terjadilah pemerataan pendidikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar