Minggu, 01 Desember 2019

Potret Sekolah Pedalaman: Sulit Dijangkau dan Minim Perhatian

Penulis: Petrus Kanisius, 6 Oktober 2017

Tidak hanya sulit dijangkau, namun realita sekolah-sekolah di pedalaman boleh dikata masih minim dari layaknya fasilitas yang mendukung bagi peserta didik dan jaraknya yang sulit dijangkau. Ya, realita sekolah-sekolah yang berada di Pedalaman tersebut lebih tepatnya berada di wilayah Kec. Manis Mata, Kab. Ketapang, Kalbar. Hal tersebut diketahui ketika kami dari Yayasan Palung mengadakan ekspedisi pendidikan lingkungan ke kampung-kampung bulan Agustus silam selama sepekan.

Jarak tempuh untuk menjangkau wilayah ini membutuhkan waktu yang panjang. Perjalanan panjang menyusuri waktu. Tidak kurang 7-8 jam perjalanan yang kami tempuh untuk tiba di wilayah Manis Mata. Setibanya di Manis Mata pun tak lantas sampai, tetapi kami harus menyusuri jalan yang cukup licin dan jalan yang banyak persimpangannya. Maklum saja, selain jalan propinsi dan jalan kabupaten, ada jalur alternatif, jalur tersebut adalah jalan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sejauh mata memandang, hampir kami tidak menjumpai hutan karena telah berganti tanaman sejenis yang tak lain ialah sawit
Potret keadaan sekolah yang sangat sulit dijangkau, tetapi juga minim fasilitas dan tenaga pengajar. Antusias dari murid-murd  SDN 15 Manis Mata terlihat, mungkin salah satu, salah duanya karena kehadiran kami di sekolah tersebut. Di Sekolah tersebut, guru cukup menurut keterangan warga yang namanya enggan disebut. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah fasilitas pendukung bagi anak-anak didik seperti perpustakaan belum tersedia, listrik juga hanya ada di waktu malam dan tidak di waktu belajar mengajar. Menurut keterangan warga juga, sekolah tersebut sangat jarang dikunjungi oleh pihak-pihak lain, karena memang maklum daerahnya sangat sulit dijangkau. Saat kami mengunjungi sekolah tersebut, kami harus melewati berbagai persimpangan jalan perkebunan sawit, perkebunan karet dan perladangan masyarakat. Dengan kata lain, sekolah tersebut berada di dalam area yang cukup sulit dijangkau, hanya jalan setapak dan sepeda motor yang bisa melewatinya (cukup terisolir). Hanya dipaksakan saja bila kendaraan roda empat bisa menjangkau menuju sekolalah itu.
Beberapa hari kami luangkan waktu untuk bersua dengan masyarakat lewat diskusi dan melakukan pemutaran film lingkungan dan film hiburan. Selanjutnya kami menyambangi sekolah-sekolah.
Jumlah siswanya dari kelas 1-6 hanya berjumlah kurang dari 50 orang, ketika kami mengunjungi sekolah tersebut, pada Selasa (8/8). Kami berkesempatan untuk memberikan informasi terkait satwa dilindungi di Kalimantan seperti orangutan, bekantan, kelasi, enggang, kelempiau, dan beberapa satwa lainnya seperti trenggiling dan kukang. Kami menyampaikan informasi dengan media boneka dengan bercerita (bertutur). Kami sagat disambut baik oleh pihak sekolah dan ketika kami menyampaikan puppet show (bercerita menggunakan media boneka), tampak bahagia dari raut wajah 46 murid yang mengikuti kegiatan tersebut.
Pada kesempatan kedua, Kamis (10/8), di SDN 2 Manis Mata, kami berkesempatan juga untuk berkunjung dan memberikan informasi terkait lingkungan hidup dan satwa dilindungi melalui media boneka. Saat kami menyambangi SDN 2 Manis Mata, ada 67 murid yang hadir saat kami menyampaikan materi. Sekolah Dasar ini cukup dekat dengan perkampungan dan tidak terlalu sulit untuk menjangkaunya.
Lain lagi di SMPN 5 Manis Mata, ketika kami mengunjungi pada (9/8), Jumlah muridnya hanya 55 murid dan 5 orang tenaga pengajar yang terdiri 3 tenaga pengajar dibiayai oleh perusahaan, 1 honor dan 1 PNS selaku kepala sekolah. Menurut cerita dari guru-guru tersebut, Ada dua SK guru kontrak dari Dinas Pendidikan Ketapang yang tugaskan di sekolah tersebut, namun hampir 1 tahun guru yang bersangkutan tak kunjung tiba di sekolah tersebut. Di sekolah ini juga masih belum ada listrik.
Sedangkan di SMPN 9 Manis Mata, (10/8) saat kami berkunjung diketahui sekolah tersebut merupakan sekolah satu atap (satap) dengan SDN 2 Manis Mata. Siswa-siswinya hanya berjumlah 25 orang dan memiliki 3 guru yang digaji oleh pihak desa setempat, yaitu desa Asam Besar.

Yang cukup lengkap sarana dan prasarananya adalah SMK Taruna Manis Mata, sekolah tersebut merupakan sekolah swasta dan cukup fasilitas termasuk ruang bermain dan perpustakaan.

Kala listrik diperlukan pada siang hari, mereka hanya bisa mengandalkan gengset sebagai sumber listrik. Namun, jika di sekolah yang belum teraliri listrik hampir dipastikan gengset setiap kali dan terbebani biaya bensin yang lumayan besar.

Dari cerita masyarakat, hingga kami mencoba untuk menyambangi wilayah Manis Mata. Di Wilayah ini, ada beberapa ancaman dan potensi. Ancaman yang dimaksud tidak lain adalah masifnya perluasan area untuk perkebunan dan pertambangan yang mengalahkan  tajuk-tajuk pepohonan. Di lain sisi adalah potensi wisata yang jika dikelola dapat dijadikan sumber pendapatan bagi desa ataupun daerah. Iya, potensi tersebut tidak lain adalah Danau Asam Besar yang manis dipandang mata.
Sumber: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/59d72f527ac6657d8f3aeb73/potret-sekolah-di-pedalaman-sulit-dijangkau-dan-minim-perhatian
B. Rangkuman
Tak hanya sulit dijangkau, sekolah dipedalaman bisa dikatakan masih minim dari layaknya fasilitas yang mendukung bagi peserta didik dan jaraknya yang sulit dijangkau, misalnya daerah pedalam yang berada di wilayah Kec. Manis Mata, Kab. Ketapang, Kalbar. perjalanan yang ditempuh untuk tiba di wilayah tersebut sikat 7-8 jam, banyak rintangan yang dihadapi untuk menuju ke lokasi, banyak pohon sawit disekitaran wilayah tersebut yang dulunya adalah hutan

Sesampainya disana ada SDN 15 Manis mata yang merupakan sekolah minim fasilitas dan pengajar, sekolah tersebut sangat minim fasilitas pendukung seperti belum adanya perpustakaan dan tersedianya listrik juga sangat terbatas, karena memang wilayah tersebut sulit untuk dijangkau. Jumlah murid yang ada disekolah tersebut antara rentang kelas 1 sampai kelas 6 hanya berjumlah kurang dari 50 orang. Sedangkan jumlah murid dari SDN 2 Manis Mata hanya berjumlah 67 orang, dan di SMPN 5 Manis Mata jumlah muridnya hanya 55 orang dan 5 orang tenaga pengajar yang terdiri dari 3 orang dibiyayai oleh perusahaan, 1 orang honorer dan 1 orang selaku kepala sekolah. Sedangkan di SMPN 9 Manis Mata yang merupakan sekolah satu atap dengan SDN 2 Manis Mata, jumlah muridnya hanya 25 orang dan memiliki 3 guru yang digaji oleh pihak desa setempatz yaitu desa Asam Besar

Yang cukup lengkap sarana dan prasarananya adalah SMK Taruna Manis Mata, sekolah swasta yang cukup lengkap fasilitasnya, menggunakan jenset dikala membutuhkan listrik akan tetapi hal tersebut sangat membebani dikarenakan bensin disana sangat mahal
C. Kategori
Berdasarkan pembahasan masalah artikel diatas dapat dikategorikan bahwa artikel tersebut merupakan kategori masalah pemerataan pendidikan dikrenakan dalam artikel tersebut mengemukaan belum meratanya pendidikan yang layak sampai ke daerah pedalaman atau yang sering disebut daerah 3T dari artikel tersebut diaebutkan bahwa fasilitas-fasilitas disana sangat kurang dan tidak dapat disebut layak. Pemerintah belum membantu daerah seperti itu dengan maksimal karna terlihat dari peenyataan bahwa sebagian besar guru disana yang digaji oleh pihak desa setempat. Sehingga menurut saya masalah tersebut termasuk ke kategori pemerataan pendidikan
D. Komentar
Menurut saya pemerintah seharusnya lebih ketat menyeleksi sekolah-sekolah mana yang seharusnya lebih diprioritaskan untuk mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah karena lebih baik pemerintah memprioritaskan dana BOS ini di daerah-daerah 3T seperti yang ada di artikel diatas, karena sekolah seperti itu sangat membutuhkan bantuan dana agar dapat mengembangkan fasilitas sekolah yang akan mungkin sangat berdampak pada pendidikan di sekiran daerah tersebut, sehingga anak-anak disana akan merasa ingin sekali untuk bersekolah karena sekolahnya sudah mencukupi fasilitasnya sehingga terjadilah pemerataan pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar